Mari Mengenal SURGA

Surga adalah tempat terbaik bagi orang-orang yang bertaqwa

Sahabat GQ, pernahkah kita memehami lebih dalam tentang surga ?

Berikut ini sifat-sifat surga yang menjadi tempat terbaik bagi orang-orang bertaqwa (dengan harapan kita semua tertarik untuk memasukinya dan bersemangat melaksanakan amal perbuatan yang menjadi wahana menuju tempat mulia nan penuh kenikmatan tersebut) :

  1. Sifat dan Keadaan Surga.

Bangunan, tanah dan bahannya

Rasulullah saw. bersabda, ”Aku disuruh masuk surga. Ternyata di dalamnya terdapat butir-butir mutiara dan tanahnya beraroma kesturi.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, ”Bangunan surga dari batu-batu bata yang terbuat dari perak dan emas. Tanah pelekat dindingnya adalah kesturi, batu-batuannya adalah mutiara dan yaqut. Sedangkan debunya dari minyak komkoma. Orang yang memasukinya pasti senang dan tidak menderita kesusahan. Ia kekal dan tidak akan mati.”

Cahaya dan kecemerlangannya

Ibnu Abbas ditanya, ”Apakah tanah surga itu?”

Beliau menjawab, ”Marmer putih dari mutiara laksana kaca.”

Beliau ditanya lagi, ”Bagaimana cahayanya?”

Beliau menjawab, ”Apa yang kamu lihat pada saat kau berada sebelum matahari terbit, itulah dia cahayanya. Hanya saja, di sana tidak ada sengatan panas matahari atau dingin yang mencekam.” (HR Bukhari)

Kamar-kamar dan istananya

Nabi saw. bersabda, ”Sesungguhnya di surga terdapat bilik-bilik yang luarnya terlihat dari dalam dan dalamnya terlihat dari luar.”

Seorang Arab Badui yang berdiri seraya bertanya, ”Ya Rasulullah, untuk siapakah itu.”

Beliau menjawab, ”Untuk orang yang suka memberikan makan kepada orang lain, selalu bertutur kata yang manis, membiasakan berpuasa, dan shalat malam di saat orang lain tertidur lelap.” (HR Tirmidzi)

Aromanya

Nabi saw. bersabda, ”Barangsiapa membunuh nyawa seorang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dan memiliki hak perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya, maka berarti ia telah  merusak perlindungan Allah, dan kelak pada hari Kiamat tidak akan dapat mencium aroma surga. Padahal aroma surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan selama tujuh puluh tahun.”

  1. Penghuni Surga

Tempat tinggalnya

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi bimbingan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (Muhammad: 4-6)

Ibnu Abbas berkata, ”Mereka lebih mengenal tempat tinggalnya di surga daripada orang-orang yang pulang ke rumahnya seusai shalat Jum’at.”

Umur, tinggi badan, dan akhlaknya

Rasulullah saw. bersabda, ”Para penghuni surga akan masuk surga dengan wajah licin. Wajah mereka tampan dengan mata bercelak sebagaimana pemuda berusia 33 tahun.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw. bersabda, ”Setiap orang yang masuk surga serupa dengan Adam, dengan tinggi badan 60 hasta.”

Mengenai akhlak mereka, Allah Ta’ala berfirman,

Dan Kami cabut segala rasa dendam yang berada dalam dada mereka, sedang mereka merasa sebagai saudara.” (Al-Hijr: 47)

Tingkat yang tertinggi dan terendah

Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya tingkat surga yang terendah adalah  tingkatan di mana orang bisa melihat taman-tamannya, isteri-isterinya, pelayan-pelayannya, dan ranjang-ranjangnya sepanjang perjalanan 1000 tahun. Dan yang termulia dari mereka di sisi Allah adalah orang yang melihat wajah Allah setiap pagi dan petang.” (HR Tirmidzi)

Seruan kegembiraan

Rasul saw. bersabda, ”Ada yang berseru, ‘Kini tiba saatnya bagimu untuk sehat selalu dan tidak akan pernah sakit untuk selamanya. Kini tiba saatnya bagimu untuk hidup selalu dan tidak akan mati untuk selamanya. Kini tiba saatnya bagimu untuk muda selalu dan tidak akan tua selamanya. Kini tiba saatnya bagimu untuk senang selalu dan tidak pernah susah selamanya.” (HR Muslim)

  1. Pepohonan, buah-buahan, dan sungai-sungai surga

Pepohonan dan naungannya

Rasulullah saw. bersabda, ”Di surga terdapat pepohonan yang naungannya tidak berakhir dilintasi oleh pengendara selama seratus tahun.” (HR Bukhari-Muslim)

Buah-buahannya

Nabi saw. bersabda, ”Apabila seseorang memetik satu buah surga, buah itu akan muncul kembali dalam sekejap.” (HR Thabrani)

Ibnu Abbas berkata, ”Buah-buahan surga itu bagaikan kendi dan timba. Warnanya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih lunak dari mentega.”

Tanamannya

Nabi saw. bersabda, ”Seorang lelaki penghuni surga meminta izin kepada Allah Ta’ala untuk bercocok tanam. Allah bertanya, ‘Bukankah kamu telah mendapatkan semua yang kamu inginkan?’ Lelaki itu menjawab, ‘Betul, tetapi aku ingin bercocok tanam.’ Lalu lelaki itu memilih benih dan menanamnya. Dalam sekejap mata, benih itu tumbuh dan menghasilkan buah yang sangat banyak, bagaikan gundukan gunung. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ambilah, hai bani Adam! Engkau memang tidak pernah merasa kenyang.’” (HR Bukhari)

Sungai-sungai dan mata airnya

Allah Ta’ala berfirman, ”Di dalam kedua surga itu terdapat dua mata air yang memancar.” (Ar-Rahman: 66)

Anas ra. berkata, ”Maksudnya, memancarkan minyak kesturi dan anbar ke rumah-rumah penghuni surga seperti memancarnya air hujan ke rumah penduduk dunia.”

Allah Ta’ala berfirman, ”….Mengalir di bawah mereka sungai-sungai…..” (Al-A’raf: 43)

Ini menunjukkan beberapa hal: —adanya sungai-sungai di surga merupakan hakikat— sungai-sungai itu mengalir, tidak diam. Sungai-sungai itu berada di bawah bilik-bilik, istana, dan kebun para penghuni surga.

  1. Makanan, minuman, dan pakaian penghuni surga

Makanan dan minumannya

Rasulullah saw. bersabda, ”Penghuni surga makan dan minum tanpa beringus, buang air besarm atau buang air kecil. Makanan yang mereka santap akan berubah menjadi peluh seperti tetes-tetes kesturi. Mereka mengalunkan tasbih dan takbir seiring dengan irama napas.” (HR Muslim)

Diedarkan kepada mereka piring-piring dan piala-piala dari emas…” (Az-Zukhruf: 71)

Pakaian dan permadaninya

Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, duduk berhadap-hadapan.” (Ad-Dukhan: 53)

Mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah.” (Ar-Rahman: 76)

Para pelayannya

Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara-mutiara yang bertaburan.” (Al-Insan: 19)

  1. Isteri penghuni surga

”…Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 25)

Maksud dari isteri-isteri yang disucikan adalah suci dari haidh, buang air kecil, buang air besar, nifas, dan setiap kotoran yang dialami wanita di dunia. Batinnya suci dari akhlak yang buruk, lidahnya suci dari kata-kata kotor, dan pandangannya tidak ditujukan kepada lelaki selain suaminya. Pakaiannya pun suci dari segala kotoran.

Nabi saw. bersabda, ”Seandainya perempuan surga muncul ke dunia, niscaya bau harumnya menyebar ke seluruh penjuru dan akan menyinari segala yang ada di antara bumi dan langit. Kerudung penutup kepalanya jauh lebih baik dari dunia seisinya.” (HR Bukhari)

Ummu Salamah ra. berkata, ”Ya Rasulullah, ceritakan kepadaku tentang bidadari surga!”

Nabi saw. menjawab, ”Bidadari surga matanya besar dan berwarna putih kemerah-merahan.”

Ummu Salamah ra. berkata lagi, ”Ceritakan kepadaku tentang ayat, ”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70)

Nabi saw. menjawab, ”Yakni baik akhlak dan cantik rupa.”

Ummu Salamah ra. bertanya lagi, ”Bagaimanakah tentang ayat, ”Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaff: 49)

Nabi saw. menjawab, ”Kelembutan mereka seperti lembutnya selaput dalam telur yang menempel di kulit luarnya.”

Ia berkata lagi , ”Jelaskanlah kepadaku tentang ayat, ”Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waqi’ah: 37)

Nabi saw. menjawab, ”Mereka yang meninggal dunia dalam usia tua akan kembali terang penglihatannya. Allah menjadikan mereka sebagai dara-dara jelita yang penuh rasa cinta dengan umur yang sebaya.”

Ia berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih utama, perempuan dunia ataukah bidadari?”

Nabi saw. menjawab, ”Tentu perempuan dunia karena ia menunaikan shalat, puasa dan ibadah lainnya. Allah memancarkan cahaya di wajahnya dan membungkus tubuhnya dengan sutera.”

Ia berkata lagi, ”Ya Rasulullah, di dunia ini ada perempuan yang dua kali bersuami, bahkan ada yang lebih. Bagaimana nanti di surga?”

Nabi saw. menjawab, ”Ia disuruh memilih suami dan akan memilih yang paling baik akhlaknya ketika di dunia.” (HR Thabrani)

  1. Masyarakat penghuni surga

Bersenang-senang dengan mendengarkan senandung bidadari surga

Adapun orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih maka mereka di dalam taman surga bergembira.” (Ar-Rum: 15)

Ibnu Jarir berkata bahwa yang dimaksud dengan bergembira adalah asyik mendengarkan. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya di surga terdapat sekelompok bidadari yang mengalunkan suara yang belum pernah didengar para makhluk di dunia. Mereka bersenandung, ”Kami kekal dan tidak akan binasa, kami selalu bergembira dan tidak akan pernah berduka, dan kami selalu ridha dan tidak akan pernah murka. Sungguh beruntung orang-orang yang menjadi milik kami dan yang memiliki kami.” (HR Tirmidzi)

Saling mengunjungi di antara mereka

Rasulullah saw. ditanya, ”Ya Rasulullah, apakah penduduk surga itu saling mengunjungi?”

Nabi saw. menjawab, ”Ya, yang berada di tingkat lebih tinggi berkunjung kepada yang berada di tingkat bawah, dan bukan sebaliknya. Adapun mereka yang saling mencintai karena Allah, dapat berkunjung ke semua tempat sesuai dengan keinginan mereka. Mereka mengendarai unta dengan membawa permadani tebal.” (HR Thabrani)

Pasar surga

Rasulullah saw. bersabda, ”Di surga terdapat pasar yang dikunjungi para penghuninya setiap hari Jum’at. Maka angin utara menerpa wajah dan pakaian mereka hingga wajah mereka bertambah tampan. Sekembalinya mereka ke rumah, berkatalah isteri-isterinya, ‘Demi Allah, kamu bertambah tampan.’ Mereka pun menjawab, ‘Kamu pun semakin cantik.’” (HR Muslim)

  1. Melihat Allah Ta’ala di surga

Dalam shahih Muslim diceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Ketika para penghuni surga memasuki surga, Allah Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan tambahan dari-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah wajah kami sudah Engkau cemerlangkan? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga? Lalu Allah menyingkap hijab sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Tuhan mereka. Lalu beliau membaca ayat, ”Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah).” (Yunus:26)

  1. Keabadian surga

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak putus-putusnya.” (Hud: 108)

Dalam hadits diriwayatkan, ”Dikatakan kepada Ahli surga, ‘Hai penghuni surga, kalian akan kekal dan tidak akan mati untuk selamanya’.” (HR Bukhari-Muslim)

Semoga kita senantiasa dikuatkan oleh Allah Ta’ala dalam menjaga iman dan taqwa hingga akhir hayat kita husnul khatimah dan dikumpulkan oleh Allah Ta’ala di Surga-Nya..

aamiin

Beberapa Amal Utama saat Ramadhan

Alhamdulillaah, dengan izin Allah Swt. bulan Ramadhan kembali menyapa kita, mari optimalkan amal shalih dan ibadah kita. Semoga senantiasa bersemangat dan istiqomah serta dapat meraih gelar Taqwa in sya Allah.

Berikut ada beberapa amal utama pada saat bulan Ramadhan, yaitu sbb :

1.Shiyam (berpuasa)

Rasulullah saw bersabda:

«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ».

Artinya:

Semua amal ibnu Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi AKU, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SWT daripada minyak misik. (lihat Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).

Rasulullah saw juga bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه)

Siapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangkan mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

Tidak diragukan lagi bahwa pahala yang besar ini tidak diberikan kepada orang yang hanya menahan diri dari lapar dan haus saja, akan tetapi sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه». (رواه البخاري).

 Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (palsu), niscaya Alah tidak membutuhkan (menerima) puasanya yang hanya sekedar meninggalkan makan dan minum saja (HR Bukhari).

Dalam hadits lain Rasulullah saw juga bersabda:

«وَالصّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَفْسُقْ وَلاَ يَجْهَلْ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنّي امْرُؤٌ صَائِمٌ». (متفق عليه)

 Dan puasa itu adalah perisai, karenanya, jika salah seorang diantara berada pada hari puasa, maka janganlah berkata atau berbuat kotor (jorok), fasiq dan bodoh, jika ada seseorang mencelanya atau hendak membunuhnya, maka katakanlah: “saya seseorang yang sedang berpuasa”. (muttafaqun ‘alaih).

Jabir berkata:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ، وَدَعْ أَذَى الْجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً

 Jika engkau berpuasa, berpuasalah pendengaranmu, matamu, dan lisanmu dari bohong dan segala yang haram, tinggalkanlah perbua­tan menyakiti tetangga, hendaklah engkau tenang, dan tenteram pada waktu engkau berpuasa, dan jangan engkau jadikan hari puasa­mu seperti hari berbukamu. (lihat: Bughyatul insan fi wazhaifi Ramadhan, karya: Ibnu Rajab Al Hanbali, Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al Mantsur mengatakan bahwa riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al baihaqi dari Jabir bin Abdillah RadhiyaLlahu ‘anhu. (lihat Ad-Durr Al mantsur pada tafsir ayat 187 dari surat Al Baqarah).

2.Qiyam (Shalat Malam)

Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه).

 Siapa yang melakukan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

Allah swt berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا (63) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (الفرقان  64 )

 Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. (Al Furqan: 63-64)

Qiyamul-lail adalah kebiasaan nabi saw dan para sahabatnya.

‘Aisyah ra. berkata:

«لاَ تَدَعْ قِيَامَ اللّيْلِ فإِنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ لاَ يَدَعُهُ، وَكَانَ إذَا مَرِضَ أَوْ كَسِلَ صَلّى قَاعِداً». (رواه أحمد وأبو داود).

 Janganlah engkau meninggalkan qiyamul-lail, sebab Rasulullah saw tidak pernah meninggalkannya, dan jika sakit atau berat beliau melakukannya dengan duduk. (HR Ahmad dan Abu Daud).

Umar bin Al Khaththab ra. melakukan shalat malam sekehendaknya, sehingga saat sampai pertengahan malam, ia bangunkan keluarganya untuk shalat, kemudian berkata kepada mereka: shalat … shalat … dia membaca firman Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه : 132).

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang memberi rizqi kepadamu. Dan akibat (penghujung) yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa. (Thaha: 132).Lihat kisah Umar ini di: Ad-Durr Al Mantsur karya Imam As-Suyuthi, saat menafsirkan ayat 132 dari surat Thaha, dan ia mengatakan bahwa riwayat ini dikeluarkan oleh: Malik dalam Al Muwaththa’ (Bab Shalatul-lail), dan juga oleh Al Baihaqi).

Ibnu ‘Umar membaca ayat ini:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ (الزمر : 9)

Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung,ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya? (QS Az-Zumar: 9).

Ia berkata: “Itu adalah Utsman bin ‘Affan RadhiyaLlahu ‘anhu”. Ibnu Abi Hatim berkata: “Ibnu Umar mengucapkan demikian karena melihat banyaknya Amirul Mukminin Utsman bin Affan dalam melakukan shalat malam dan dalam membaca Al Qur’an di dalamnya, sampai-sampai, bisa jadi ia membaca seluruh isi Al Qur’an dalam satu raka’at”. (Lihat tafsir Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat 9 dari suratAz-Zumar tersebut.)

Dari ‘Alqamah bin Qais, ia berkata: “Saya mabit bersama Abdullah bin Mas’ud RadhiyaLlahu ‘anhu pada suatu malam, maka ia bangun di awal malam, lalu bangkit melakukan shalat, ia membaca seperti bacaan imam masjid dengan tartil dan tidak mengulang-ulang, memperdengarkan suaranya kepada orang-orang di sekelilingnya, dan tidak mengulang-ulang suaranya, sehingga tidak tersisa dari kegelapan malam kecuali seperti jarak antara waktu maghrib dengan waktu habisnya, kemudian ia melakukan shalat witir”. (Al Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, dalam Al Mu’jam Al Kabir, dan Rijal-nya Rijal Shahih”.)

Dalam hadits Saib bin Zaid, ia berkata: “Dulu seorang Qari (imam) membaca sekitar seratusan ayat, sampai-sampai kita berpegangan dengan tongkat karena lamanya berdiri”, ia berkata: “Dan mereka tidak bubaran dari shalat kecuali saat (menjelang) fajar”.

Tanbih : Selayaknya bagimu wahai saudaraku yang beragama Islam untuk menyempurnakan shalat tarawihmu bersama imam, sehingga engkau ditulis sebagai orang-orang yang qaaimiin, sebab Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ قَامَ مَعَ الإمَامِ حَتّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة». (رواه أحمد وأصحاب السنن).

Siapa yang melakukan shalat malam bersama imam, sehingga imam itu selesai, maka ia dicatat sebagai orang yang melakukan qiyamul-lail sepanjang malam. (HR Ahmad dan pemilik 4 kitab As-Sunan).

3. Shadaqah

كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السّلاَمُ وكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلّ سَنَةٍ، فِي رَمَضَانَ حَتّىَ يَنْسَلِخَ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرّيحِ الْمُرْسَلَةِ. (متفق عليه)

Rasulullah saw adalah manusia yang paling derma dengan kebaikan, dan terlebih lagi pada bulan Ramadhan saat bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- dan beliau bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- setiap tahun pada bulan Ramadhan sehingga bulan itu berlalu, lalu Rasulullah saw memaparkan kepada Jibril –‘alaihis-salam- Al Qur’an, maka jika Rasulullah saw bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- lebih derma dengan kebaikan dari pada angin yang dilepaskan. (muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah saw bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ (أخرجه الترمذي عن أنس والبيهقي في الشعب والخطيب في التاريخ، قاله المناوي).

 Shadaqah yang paling mulia adalah shadaqah pada bulan Ramadhan (HR At-Tirmidzi dari Anas, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, demikianlah ucapan Al Manawi dalam al faidhul Qadiir syarh Jami’ Ash-Shaghir).

Zaid bin Aslam meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Al Khaththab RadhiyaLlahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah saw memerintahkan agar kita bershadaqah, dan hal itu bertepatan dengan harta milikku (pas lagi ada), maka saya berkata: “Hari ini saya akan mampu mengalahkan Abu Bakar yang sebelumnya belum pernah saya kalahkan”. Umar berkata: “Maka saya datang dengan membawa separoh hartaku”. Umar berkata: “Maka Rasulullah saw berkata kepadaku: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Umar berkata: “Maka saya menjawab: “Seperti yang saya bawa”. Dan datanglah Abu Bakar dengan seluruh yang dimilikinya, maka Rasulullah saw bersabda: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “Saya sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Umar berkata: “Maka saya berkata: “Saya tidak akan bisa mengalahkanmu dengan sesuatupun selamanya”. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Sebelumnya belum pernah saya kalahkan”. Umar berkata: “Maka saya datang dengan membawa separoh hartaku”. Umar berkata: “Maka Rasulullah saw berkata kepadaku: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Umar berkata: “Maka saya menjawab: “Seperti yang saya bawa”. Dan datanglah Abu Bakar dengan seluruh yang dimilikinya, maka Rasulullah saw bersabda: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “Saya sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Umar berkata: “Maka saya berkata: “Saya tidak akan bisa mengalahkanmu dengan sesuatupun selamanya”. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Tarhib Ramadhan GQ 1438 H bersama KH. Anwar Jufri, Lc

Subhanallah wal hamdulillah, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan PPTQ GRIYA QURÁN melaksanakan agenda kajian akbar “Tarhib Ramadhan” yang menghadirkan pembicara KH. Anwar Jufri Lc (Direktur Sekolah Haji & Umrah). Kegiatan ini dilaksanakan di masjid ASH-SHIDIQ PPTQ GRIYA QURÁN I Klaten yang sedang dibangun (proses pembangunan sekitar 80 %).

Banyak sekali pelajaran penting yang dapat diambil dalam kesempatan tersebut, diantaranya adalah hendaknya kita menjadi muslim/muslimah yang bermental tangan di atas bukan yang bermental tangan di bawah.

Marilah kita persiapkab bekal yang cukup, dalam rangka menyongsong bulan suci Ramdhan sehingga in sya Allah kita mampu menjadi pribadi yang bertaqwa., sukses dan selamat di dunia hingga akhirat..

in sya Allah.

Fadhilah SHOLAT SUBUH

Fadhilah Shalat Shubuh

(Oleh : Ust. Drs. Muhammad badawi)

Allah SWT berfirman :

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” ( Al Isra’ : 78).

Alhamdulillah wa sholatu wa salam ála Rasulillah Saw,

Apabila kita perhatikan dilingkungan sekitar, tidak sedikit yang merasa berat melaksanakan shalat Shubuh, saat kebanyakan manusia masih terlelap. Padahal keutamaan shalat Shubuh sungguh sangat banyak dan dahsyat. Adapun fadhilah shalat Subuh di antaranya yaitu :

  1. Shalat Shubuh Berhubungan dengan Pembagian Rezeki

Pernah suatu ketika Nabi SAW shalat subuh. Begitu selesai, beliau pun kembali ke rumah dan mendapati puterinya Fathimah ra sedang tidur. Maka beliau pun membalikkan tubuh Fatimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya :

“Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rizki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rizki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari.”

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (Ath Thalaq : 2-3)

  1. Shalat Shubuh Sebanding dengan Shalat Malam semalam suntuk

”Barang siapa yang melaksanakan shalat isya’ secara berjamaah maka ia seperti shalat malam separuh malam. Dan barang siapa melaksanakan shalat subuh secara berjamaah maka ia seperti shalat malam satu malam penuh.” (HR.Muslim)

  1. Shalat Shubuh Membedakan Antara Mukmin dengan Munafik

Rasulullah SAW bersabda:

“Shalat terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak .” (HR.Ahmad)

  1. Shalat Shubuh adalah penyelamat dari neraka

Nabi SAW bersabda,

“Tidak akan masuk neraka, orang yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya.” (HR.Muslim)

Ini adalah ketetapan Nabi yang mulia, bahwa siapa yang memelihara pelaksanaan shalat Shubuh dan Ashar maka dia tidak akan masuk neraka dengan izin Allah SWT.

  1. Shalat Shubuh adalah penyebab orang masuk surga

Nabi SAW bersabda,

“Siapa yang melaksanakan dua shalat bardain dia masuk syurga”

Shalat bardain adalah shalat subuh dan ashar. Disebut Al Bardain (dua waktu dingin) karena keduanya dilaksanakan pada waktu dinginnya siang, tepatnya pada kedua ujung siang ketika suasana teduh dan tidak ada terik panas.

  1. Shalat Subuh disaksikan malaikat

“Malaikat-malaikat siang bergantian mendampingi kalian dengan malaikat-malaikat malam, dan mereka berkumpul pada waktu shalat subuh dan ashar setelah itu malaikat yang semalaman menjaga kalian naik ke langit. Lalu Allah bertanya kepada mereka – dan dia lebih tahu tentang mereka – ’Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaku?’ Mereka menjawab, ’Kami menginggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka ketika mereka shalat’” (HR.Bukhari)

  1. Shalat subuh adalah kunci kemenangan kita

“Bahwa Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu subuh.” (HR Bukhari)

Dikisahkan pasca meletusnya perang Mesir-Israel tahun 1973 ada seorang tentara Mesir yang mengajak berbicara tentara Yahudi yang paham bahasa Arab.

Tentara Mesir itu berkata, “Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian sampai ada di antara kalian yang bersembunyi di balik pohon dan batu, kemudian pohon dan batu itu mengatakan ,’hai hamba Allah, hai Muslim, ini ada Yahudi di belakangku, ke mari dan bunuhlah dia’”

Tentara Yahudi menjawab, ”Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat subuh kalian sama banyak jamaahnya dengan shalat Jumat.”

  1. Mendapat perlindungan Allah

“Barangsiapa melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah, maka ia berada dalam perlindungan Alloh.” (HR. Ibnu Majah). Hadits shohih.

  1. Lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.

“Dua rakaat shalat subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR.Muslim dan Ahmad)

Mengenai shalat dua rakaat sunah sebelum subuh Rasulullah bersabda,“Dua rakaat itu lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR.Muslim)