Beberapa Amal Utama saat Ramadhan

Alhamdulillaah, dengan izin Allah Swt. bulan Ramadhan kembali menyapa kita, mari optimalkan amal shalih dan ibadah kita. Semoga senantiasa bersemangat dan istiqomah serta dapat meraih gelar Taqwa in sya Allah.

Berikut ada beberapa amal utama pada saat bulan Ramadhan, yaitu sbb :

1.Shiyam (berpuasa)

Rasulullah saw bersabda:

«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ».

Artinya:

Semua amal ibnu Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi AKU, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SWT daripada minyak misik. (lihat Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).

Rasulullah saw juga bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه)

Siapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangkan mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

Tidak diragukan lagi bahwa pahala yang besar ini tidak diberikan kepada orang yang hanya menahan diri dari lapar dan haus saja, akan tetapi sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه». (رواه البخاري).

 Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (palsu), niscaya Alah tidak membutuhkan (menerima) puasanya yang hanya sekedar meninggalkan makan dan minum saja (HR Bukhari).

Dalam hadits lain Rasulullah saw juga bersabda:

«وَالصّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَفْسُقْ وَلاَ يَجْهَلْ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنّي امْرُؤٌ صَائِمٌ». (متفق عليه)

 Dan puasa itu adalah perisai, karenanya, jika salah seorang diantara berada pada hari puasa, maka janganlah berkata atau berbuat kotor (jorok), fasiq dan bodoh, jika ada seseorang mencelanya atau hendak membunuhnya, maka katakanlah: “saya seseorang yang sedang berpuasa”. (muttafaqun ‘alaih).

Jabir berkata:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ، وَدَعْ أَذَى الْجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً

 Jika engkau berpuasa, berpuasalah pendengaranmu, matamu, dan lisanmu dari bohong dan segala yang haram, tinggalkanlah perbua­tan menyakiti tetangga, hendaklah engkau tenang, dan tenteram pada waktu engkau berpuasa, dan jangan engkau jadikan hari puasa­mu seperti hari berbukamu. (lihat: Bughyatul insan fi wazhaifi Ramadhan, karya: Ibnu Rajab Al Hanbali, Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al Mantsur mengatakan bahwa riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al baihaqi dari Jabir bin Abdillah RadhiyaLlahu ‘anhu. (lihat Ad-Durr Al mantsur pada tafsir ayat 187 dari surat Al Baqarah).

2.Qiyam (Shalat Malam)

Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه).

 Siapa yang melakukan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

Allah swt berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا (63) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (الفرقان  64 )

 Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. (Al Furqan: 63-64)

Qiyamul-lail adalah kebiasaan nabi saw dan para sahabatnya.

‘Aisyah ra. berkata:

«لاَ تَدَعْ قِيَامَ اللّيْلِ فإِنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ لاَ يَدَعُهُ، وَكَانَ إذَا مَرِضَ أَوْ كَسِلَ صَلّى قَاعِداً». (رواه أحمد وأبو داود).

 Janganlah engkau meninggalkan qiyamul-lail, sebab Rasulullah saw tidak pernah meninggalkannya, dan jika sakit atau berat beliau melakukannya dengan duduk. (HR Ahmad dan Abu Daud).

Umar bin Al Khaththab ra. melakukan shalat malam sekehendaknya, sehingga saat sampai pertengahan malam, ia bangunkan keluarganya untuk shalat, kemudian berkata kepada mereka: shalat … shalat … dia membaca firman Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (طه : 132).

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang memberi rizqi kepadamu. Dan akibat (penghujung) yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa. (Thaha: 132).Lihat kisah Umar ini di: Ad-Durr Al Mantsur karya Imam As-Suyuthi, saat menafsirkan ayat 132 dari surat Thaha, dan ia mengatakan bahwa riwayat ini dikeluarkan oleh: Malik dalam Al Muwaththa’ (Bab Shalatul-lail), dan juga oleh Al Baihaqi).

Ibnu ‘Umar membaca ayat ini:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ (الزمر : 9)

Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung,ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya? (QS Az-Zumar: 9).

Ia berkata: “Itu adalah Utsman bin ‘Affan RadhiyaLlahu ‘anhu”. Ibnu Abi Hatim berkata: “Ibnu Umar mengucapkan demikian karena melihat banyaknya Amirul Mukminin Utsman bin Affan dalam melakukan shalat malam dan dalam membaca Al Qur’an di dalamnya, sampai-sampai, bisa jadi ia membaca seluruh isi Al Qur’an dalam satu raka’at”. (Lihat tafsir Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat 9 dari suratAz-Zumar tersebut.)

Dari ‘Alqamah bin Qais, ia berkata: “Saya mabit bersama Abdullah bin Mas’ud RadhiyaLlahu ‘anhu pada suatu malam, maka ia bangun di awal malam, lalu bangkit melakukan shalat, ia membaca seperti bacaan imam masjid dengan tartil dan tidak mengulang-ulang, memperdengarkan suaranya kepada orang-orang di sekelilingnya, dan tidak mengulang-ulang suaranya, sehingga tidak tersisa dari kegelapan malam kecuali seperti jarak antara waktu maghrib dengan waktu habisnya, kemudian ia melakukan shalat witir”. (Al Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, dalam Al Mu’jam Al Kabir, dan Rijal-nya Rijal Shahih”.)

Dalam hadits Saib bin Zaid, ia berkata: “Dulu seorang Qari (imam) membaca sekitar seratusan ayat, sampai-sampai kita berpegangan dengan tongkat karena lamanya berdiri”, ia berkata: “Dan mereka tidak bubaran dari shalat kecuali saat (menjelang) fajar”.

Tanbih : Selayaknya bagimu wahai saudaraku yang beragama Islam untuk menyempurnakan shalat tarawihmu bersama imam, sehingga engkau ditulis sebagai orang-orang yang qaaimiin, sebab Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ قَامَ مَعَ الإمَامِ حَتّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة». (رواه أحمد وأصحاب السنن).

Siapa yang melakukan shalat malam bersama imam, sehingga imam itu selesai, maka ia dicatat sebagai orang yang melakukan qiyamul-lail sepanjang malam. (HR Ahmad dan pemilik 4 kitab As-Sunan).

3. Shadaqah

كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السّلاَمُ وكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلّ سَنَةٍ، فِي رَمَضَانَ حَتّىَ يَنْسَلِخَ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرّيحِ الْمُرْسَلَةِ. (متفق عليه)

Rasulullah saw adalah manusia yang paling derma dengan kebaikan, dan terlebih lagi pada bulan Ramadhan saat bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- dan beliau bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- setiap tahun pada bulan Ramadhan sehingga bulan itu berlalu, lalu Rasulullah saw memaparkan kepada Jibril –‘alaihis-salam- Al Qur’an, maka jika Rasulullah saw bertemu malaikat Jibril –‘alaihis-salam- lebih derma dengan kebaikan dari pada angin yang dilepaskan. (muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah saw bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ (أخرجه الترمذي عن أنس والبيهقي في الشعب والخطيب في التاريخ، قاله المناوي).

 Shadaqah yang paling mulia adalah shadaqah pada bulan Ramadhan (HR At-Tirmidzi dari Anas, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, demikianlah ucapan Al Manawi dalam al faidhul Qadiir syarh Jami’ Ash-Shaghir).

Zaid bin Aslam meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Al Khaththab RadhiyaLlahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah saw memerintahkan agar kita bershadaqah, dan hal itu bertepatan dengan harta milikku (pas lagi ada), maka saya berkata: “Hari ini saya akan mampu mengalahkan Abu Bakar yang sebelumnya belum pernah saya kalahkan”. Umar berkata: “Maka saya datang dengan membawa separoh hartaku”. Umar berkata: “Maka Rasulullah saw berkata kepadaku: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Umar berkata: “Maka saya menjawab: “Seperti yang saya bawa”. Dan datanglah Abu Bakar dengan seluruh yang dimilikinya, maka Rasulullah saw bersabda: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “Saya sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Umar berkata: “Maka saya berkata: “Saya tidak akan bisa mengalahkanmu dengan sesuatupun selamanya”. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Sebelumnya belum pernah saya kalahkan”. Umar berkata: “Maka saya datang dengan membawa separoh hartaku”. Umar berkata: “Maka Rasulullah saw berkata kepadaku: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Umar berkata: “Maka saya menjawab: “Seperti yang saya bawa”. Dan datanglah Abu Bakar dengan seluruh yang dimilikinya, maka Rasulullah saw bersabda: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab: “Saya sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Umar berkata: “Maka saya berkata: “Saya tidak akan bisa mengalahkanmu dengan sesuatupun selamanya”. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Alhamdulillaah., 90 Santri PPTQ GQ TP. 2017/2018 diwisuda

Dengan izin Allah SWT, alhamdulillah 90 santri PPTQ Griya Qur’an Indonesia telah sukses diwisuda, banyak diantara wisudawan/wati mendapatkan prestasi Akademik Sekolah maupun prestasi Tahfizhul Qur’an.

24 Sya’ban 1439 H/10 Mei 2018 merupakan salah satu hari bersejarah bagi keluarga besar PPTQ Griya Qur’an Indonesia, sebab saat itu telah dilaksanakan wisuda santri jenjang akhir PPTQ Griya Qur’an seluruh cabang.

Wisuda santri GQ dilaksanakan di PPTQ Griya Qur’an I Klaten, dan dihadiri oleh para tokoh undangan dan pejabat pemerintah., diantaranya disambut langsung oleh Drs. H. Wahib, M.Pd.I. selaku Kasi PD Pontren KEMENAG Klaten.

Semoga semakin bertambahnya waktu, PPTQ Griya Qur’an Indonesia semakin berjaya dalam membina umat, berbekal Al-Qur’an Membangun Indonesia. Sukses di dunia sampai di akhirat kelak.. in sya Allah.

Aamin Ya Rabbal ‘Aalamiin